SEJARAH
PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI
INFORMASI &
KOMUNIKASI
DALAM
PENDIDIKAN
11 Februari 2016
Disusun Oleh
Feby Dhikamulya (7516150180)
Joyce Pelupessy (7516150374)
Lisnawati Murni (7516150376)
Dosen Pembimbing
Dr. Robinson Situmorang
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi berubah menjadi faktor penting dalam dunia pendidikan. Namun ada argumen bahwa teknologi telah mempunyai peran sejak 2500 tahun yang lalu. Untuk memahami lebih baik peran dan pengaruh teknologi dalam pendidikan, kita perlu mengetahui sejarahnya.
Paul Saettler di tahun 1990 menulis tentang 'The Evolution of American Educational Technology'. Tulisannya menjadi salah satu catatan sejarah yang paling luas, hanya saja catatan sejarah ini terhenti di tahun 1989. Padahal banyak perkembangan teknologi yang lebih maju setelah tahun 1989 yang perlu dicatat.
Teknologi selalu terkait erat dengan ajaran. Menurut Alkitab, kitab suci umat Kristiani, Musa menggunakan batu pahat untuk menyampaikan sepuluh perintah sekitar abad 7 SM. Hal ini mungkin bisa menjadi dasar yang bermanfaat untuk meringkas perkembangan teknologi pendidikan dalam hal mode utama komunikasi.[1]
B. Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah
perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pendidikan?
C. Tujuan
Agar para pendidik
mengetahui sejarah perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Komunikasi Lisan
Salah satu cara paling awal dalam
pendidikan yaitu pengajaran formal dengan menggunakan komunikasi lisan. Pada zaman kuno, kisah-kisah, cerita rakyat,
sejarah dan berita ditransmisikan dan dipertahankan melalui komunikasi lisan.
Pada saat itu orang harus memiliki ketrampilan kritis dalam menghafal dengan
akurat. Dan tradisi lisan, hingga saat ini masih berlaku pada budaya Aborigin. Bagi orang Yunani kuno, kotbah dan pidato
adalah sarana untuk orang belajar dan mereka akan lulus dalam pelajaran
tersebut jika mereka sudah sanggup membawakan kotbah atau pidato. Homer Iliad dan
Odyssey menggunakan pantun dalam pertunjukan mereka di khalayak umum. Untuk
menguasai ketrampilan ini, mereka harus menghafal dengan cara mendengarkan,
bukan dengan cara membaca. Membagikan yang mereka pelajari melalui pantun,
bukan lewat tulisan.
Pada
masa Socrates, komunikasi lisan dianggap yang paling bijaksana dan menulis
dianggap melemahkan kekuatan komunikasi lisan. Menurut
Plato, Socrates menemukan bahwa salah seorang siswa nya (Phaedrus) berpura-pura
membaca pidato dari memori, padahal sebenarnya dia telah belajar dari versi
tertulis. Mereka kemudian mendiskusikan
baik dan buruknya menulis. Socrates kemudian menceritakan
pada Phaedrus sebuah kisah legenda tentang dewa Theuth yang
menawarkan Raja Mesir, Thamus, karunia menulis yang akan menjadi 'resep untuk
memori dan kebijaksanaan'. Tapi Raja
Thamus tidak terkesan dan berpikir sebaliknya.
Menurut Raja: Menulis akan memberikan efek sebaliknya dari memori dan
kebijaksanaan. Menulis memberikan efek untuk sekedar mengingatkan (reminding)
tetapi bukan untuk mengingat secara mendalam (remembering) dan hal ini bukan
merupakan wujud nyata dari kebijaksanaan atau hikmat yang sesungguhnya. Menulis
akan menanamkan
kelalaian pada jiwa seseorang. Orang akan berhenti melatih memori mereka,
karena mereka akan bergantung pada apa yang tertulis. Orang akan menciptakan
memori tidak dari dalam diri mereka sendiri, tetapi melalui simbol-simbol
eksternal. Menulis hanya untuk menyatakan banyak hal
tanpa mengajarkan apa-apa pada kita.
Guru akan membuat para murid tampak tahu banyak hal, padahal sebagian besar
mereka tidak tahu apa-apa. Dan bila seseorang tidak mempunyai hikmat dan
kebijaksanaan, melainkan kesombongan, mereka hanya akan menjadi beban bagi sesama
manusia. Generasi masa depan akan mendengarkan banyak tanpa
diajarkan dengan benar, mereka akan muncul terlihat bijaksana padahal tidak,
dan ini membuat mereka kesulitan untuk bersosialisasi baik dengan orang lain.”[1] Apa yang dikatakan Raja Mesir Thamus sepertinya
terjadi pada masa sekarang terutama pada saat media sosial semakin banyak
digunakan oleh generasi saat ini.
B. Komunikasi Tertulis
Peran teks atau tulisan
dalam pendidikan juga memiliki sejarah panjang. Meskipun Socrates dilaporkan
telah mencerca berbagai penggunaan tulisan dan berbagai bentuk komunikasi tertulis,
komunikasi tertulis menjadi jauh lebih mudah diakses, direproduksi tanpa
gangguan, dan menjadi lebih terbuka untuk dianalisa dan dikritik dibandingkan
dengan komunikasi lisan. Di abad ke 5 sebelum
masehi, ditemukan dokumen tertulis ada dalam jumlah cukup banyak di Yunani
kuno. Istilah 'kuliah', berasal dari bahasa Latin yang artinya 'untuk membaca',
diyakini berasal dari profesor di abad pertengahan dengan membaca dari naskah
menggulir ditulis tangan oleh para rahib (sekitar 1200 AD). Karena proses
penulisan pada gulungan begitu rumit dengan isi yang begitu kaya, perpustakaan
biasanya hanya memiliki satu salinan, sehingga para siswa tidak mempunyai akses
untuk membaca naskah secara langsung. Sehingga
kelangkaan satu teknologi ini menyebabkan
munculnya dorongan untuk diciptakannya teknologi lainnya.
Penemuan mesin cetak di
Eropa pada abad ke-15 adalah sebuah teknologi yang membuat pengetahuan tertulis
jauh lebih tersedia secara bebas dan banyak tersedia dengan cara yang sama
seperti dilakukan internet hari ini. Sebagai hasil dari ledakan dokumen tertulis
yang dihasilkan dari mekanisasi cetak, dalam pemerintahan dan bisnis lebih
banyak membutuhkan lebih banyak orang yang melek huruf dan dan memiliki
ketrampilan menganalisa. Ini menyebabkan
terjadinya ekspansi yang cepat pada pendidikan formal di Eropa. Ini menimbulkan banyaknya alasan dalam perkembangan
pendidikan: kemenangan akal dan ilmu pengetahuan lebih dipercaya daripada takhayul
dan keyakinan, namun teknologi pencetakan diyakini
menjadi
kunci utama yang menggerakan terjadinya perubahan
sistem pendidikan.
Perbaikan infrastruktur
transportasi di abad ke-19 di Eropa, dan khususnya penciptaan sistem pos murah
yang dapat diandalkan di tahun 1840-an, membentuk perkembangan pendidikan korespondensi
yang pertama. Dan sejak tahun 1858, Universitas London membuka program gelar pendidikan
jarak jauh dalam bidang korespondensi. Program
gelar pendidikan jarak jauh ini masih ada hingga sekarang dalam bentuk Program International
Universitas London. Pada 1970-an, Universitas Terbuka mengubah penggunaan media
cetak untuk mengajar melalui rancangan khusus, diilustrasikan secara
terintegrasi pada kegiatan belajar berdasarkan desain instruksional yang
canggih.[1]
Peralatan Teknologi yang Mendukung Komunikasi Tertulis
Pada abad ke-12, batu tulis digunakan di India dan papan tulis digunakan di sekolah-sekolah sekitar pergantian abad ke-18. Pada akhir Perang Dunia II, Angkatan Darat AS mulai menggunakan proyektor overhead untuk pelatihan dan penggunaannya menjadi umum untuk kelas-kelas perkuliahan, sampai akhirnya digantikan oleh proyektor elektronik dan perangkat lunak untuk presentasi seperti Powerpoint di tahun 1990. Disini kita dapati bahwa kebanyakan teknologi yang digunakan dalam pendidikan tidak dikembangkan secara khusus untuk pendidikan, tetapi untuk tujuan lain, terutama tujuan ekonomi.
Meskipun telepon diciptakan di akhir 1870-an, sistem telepon standar tidak pernah menjadi alat pendidikan utama, bahkan tidak digunakan dalam pendidikan jarak jauh. Ini disebabkan tingginya biaya panggilan telepon analog untuk beberapa pengguna, meskipun audio conferencing telah digunakan untuk melengkapi media lainnya sejak 1970-an. Video-conferencing menggunakan sistem kabel khusus dan ruang konferensi mulai digunakan sejak 1980-an. Perkembangan teknologi kompresi video dan biaya layanan video yang relatif rendah di awal 2000-an menyebabkan teknologi ini digunakan dalam sistem kuliah pada tahun 2008. Webinar sekarang digunakan sebagian besar untuk memberikan kuliah melalui Internet.
Sekali lagi, tak satu pun dari teknologi ini merubah cara dasar pengajaran yang menggunakan komunikasi lisan. Teknologi diyakini hanya membantu, tetapi tidak merubah dasar-dasar komunikasi lisan untuk mengajar.
C. Penyiaran (Broadcasting) dan Video
British
Broadcasting Corporation (BBC) mulai menyiarkan program radio pendidikan untuk
sekolah di tahun 1920-an. Program radio pendidikan pertama bagi orang dewasa
disiarkan pada tahun 1924, bertema ‘Insects
in Relation to Man’. Di tahun yang sama, JC Stobart, Direktur baru
Pendidikan di BBC, mengemukakan idenya mengenai 'universitas penyiaran' dalam
jurnal majalah Radio Times.[1] Media televisi akhirnya baru terealisasi pertama kali digunakan dalam
pendidikan pada tahun 1960, untuk sekolah dan untuk pendidikan umum orang
dewasa.
Pada tahun 1969, pemerintah
Inggris mendirikan Universitas Terbuka (UT) bekerjasama dengan BBC untuk
mengembangkan program-program UT untuk semua kalangan, menggunakan kombinasi media
cetak yang dirancang khusus oleh staf UT, program televisi dan radio dibuat
oleh BBC yang terintegrasi dengan program. Meski program radio melibatkan
komunikasi dari mulut ke mulut, program televisi tidak menggunakan cara seperti
itu, tetapi lebih terfokus pada format televisi umum: seperti dokumenter,
demonstrasi proses, dan studi kasus.
Penggunaan media televisi
untuk pendidikan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, yang terlihat pada
1970-an terutama di lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia dan
UNESCO. Di negara-negara berkembang, harapan mengenai pendidikan melalui media
televisi cepat memudar, ketika realitas dari kurangnya listrik, biaya, keamanan
peralatan yang tersedia untuk umum, iklim, ketahanan dari guru lokal, dan
bahasa lokal dan isu-isu budaya menjadi jelas.
Pada tahun 1980 siaran satelit mulai tersedia. Harapan untuk pendidikan
melalui Universitas Terbuka melalui media satelit mulai berkembang. Tapi kembali dengan alasan yang sama, harapan
pendidikan mencapai negara-negara berkembang pun pupus. Di tahun 1983 India
telah meluncurkan satelit sendiri, INSAT. Awalnya digunakan untuk menyampaikan program
televisi pendidikan yang diproduksi secara lokal di seluruh negeri, dalam
beberapa bahasa pribumi, serta menggunakan receiver rancangan India dan televisi
di pusat-pusat komunitas lokal serta sekolah.[2] Tetapi kemudian pada tahun 1990an muncul akses internet
kecepatan tinggi dan kompresi digital sehingga biaya menciptakan dan
mendistribusikan video menurun drastis. Perkembangan
teknologi internet memungkinkan
siswa untuk melihat atau melakukan review
kuliah setiap saat dan di manapun dengan koneksi internet. Massachusetts Institute of Technology (MIT)
mulai membuat rekaman kelas kuliah yang tersedia untuk umum, gratis, melalui
proyek OpenCourseWare-nya, pada tahun
2002.
YouTube dimulai pada tahun
2005 dan dibeli oleh Google pada tahun 2006. YouTube semakin banyak digunakan
untuk klip pendek pendidikan yang dapat didownload dan diintegrasikan ke dalam
kursus online. Pada tahun 2007 Apple Inc
membuat iTunesU untuk menjadi portal atau situs dengan menggunakan video dan
bahan digital lainnya dalam pengajaran di universitas yang dapat dikumpulkan
dan diunduh secara gratis oleh para pengguna
akhir.
D. Teknologi Komputer
D.1. Computer-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Komputer)
Pada dasarnya pengembangan pembelajaran komputerisasi diprogram dengan tujuan untuk menata informasi, menguji pengetahuan peserta didik, dan memberikan umpan balik segera ke peserta didik, tanpa campur tangan manusia selain pemilihan dan pemuatan konten dan penilaian pertanyaan yang didesain dalam hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak).
B.F. Skinner dengan teori behaviorisme mulai bereksperimen membuat program pembelajaran dengan mesin di tahun 1954. Mesin ajar Skinner adalah salah satu bentuk pertama dari pembelajaran berbasis komputer.
D.2. Computer Networking (Jaringan Komputer)
Arpanet adalah jaringan pertama yang menggunakan protokol Internet di Amerika pada tahun 1982. Pada akhir 1970-an, Murray Turoff dan Roxanne Hiltz di New Jersey Institute of Technology bereksperimen dengan blended learning, menggunakan jaringan komputer internal NJIT. Mereka mengkombinasikan kelas mengajar dengan forum diskusi online, yang disebut 'komunikasi melalui komputer' (CMC).
Di Universitas Guelph di Kanada, sistem software off-the-shelf disebut Cosy dikembangkan pada tahun 1980 yang memungkinkan untuk forum diskusi kelompok secara online. Pada tahun 1988, Universitas Terbuka di Inggris menawarkan kursus, DT200, yang serta media tradisional OU untuk teks dicetak, program televisi dan audio-kaset, juga termasuk komponen diskusi online menggunakan Cosy. Kursus ini adalah kursus online pertama dengan 1,200 siswa yang terdaftar. Disini kita dapat melihat bahwa dengan penggunaan jaringan komputer, memungkinkan siswa dan instruktur untuk berkomunikasi satu sama lain dalam sistem pembelajaran yang terprogram.
The World Wide Web secara resmi diluncurkan pada tahun 1991. World Wide Web pada dasarnya adalah sebuah aplikasi di Internet yang memungkinkan 'pengguna akhir' untuk membuat dan dokumen tautan, video atau media digital lainnya. Web browser pertama, Mosaic, dibuat pada tahun 1993. Sebelum Web, diperlukan metode yang panjang dan memakan waktu untuk memuat teks, dan untuk menemukan bahan di Internet. Beberapa mesin pencari internet telah dikembangkan sejak tahun 1993. Google diciptakan pada tahun 1999, muncul sebagai salah satu mesin pencari utama.
D.3. Lingkungan Pembelajaran Online
Media sosial adalah sebuah sub-kategori teknologi komputer, tetapi perkembangannya memiliki bagian tersendiri dalam sejarah teknologi pendidikan. Sosial media mencakup berbagai teknologi yang berbeda, termasuk blog, wiki, video You Tube, perangkat mobile seperti ponsel dan tablet, Twitter, Skype dan Facebook. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai: [6]
“A group of Internet-based applications that …allow the creation and exchange of user-generated content, based on interactions among people in which they create, share or exchange information and ideas in virtual communities and networks.”
Terjemahan definisi diatas yaitu media sosal merupakan kelompok aplikasi berbasis internet yang ... memungkinkan penciptaan dan pertukaran konten dari para pengguna pengguna, berdasarkan interaksi antara orang-orang yang membuat, berbagi atau bertukar informasi dan ide-ide dalam komunitas virtual dan jaringan.
Media sosial sangat terkait dengan orang-orang muda dan 'millenials' - dengan kata lain, banyak penggunanya adalah para siswa sekolah menengah. Kegiatan menulis di media sosial yang terintegrasi ke dalam pendidikan formal seperti membina komunitas praktek online, atau pengenalan materi pengajaran di kelas, seperti ' tweet 'selama kuliah. Dengan cara ini para siswa memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk belajar.
E. Definisi Teknologi Pendidikan Dari Masa ke Masa
M. Atwi Suparman, dalam bukunya “Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Jarak Jauh”, memberikan definisi teknologi pendidikan yang sangat jelas yang akan disebutkan pada bagian ini.[7]
Definisi yang paling tua dimulai pada tahun 1963 dimana teknologi pendidikan dipandang sebagai bagaimana merancang atau mendesain isi pelajaran agar lebih mudah dan lebih jelas ditangkap atau dipahami oleh peserta didik. Pada masa itu teknologi untuk pendidikan dikenal dalam bentuk fisik seperti film, model, bagan, gambar bergerak, dan sebagainya yang dilanjutkan dengan siaran radio dan gambar bergerak dengan suara. Teknologi pendidikan lebih menekankan pada peristiwa belajar (learning).
Pada tahun 1970an, teknologi pendidikan (educational technology) mulai bergeser ke istilah teknologi pembelajaran (instructional technology) yang merupakan suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi seluruh proses belajar dan mengajar untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif. Ini meliputi tahapan yang runtut mulai dari penetapan tujuan, desain, implementasi, hingga evaluasi pembelajaran.
AECT, pada tahun 1977an mendefinisikan teknologi pendidikan sebagai suatu proses yang kompleks yang melibatkan orang, prosedur, ide, alat, dan bahkan organisasi untuk menganalisa masalah dan memberikan solusi yang menyangkut semua aspek belajar pada manusia.
Pada tahun 2008, dimana teknologi semakin berkembang pesat, definisi teknologi pendidikan mengarah kepada memanfaatkan teknologi untuk peningkatan kinerja melalui penciptaan dan penggunaan proses dan sumber daya teknologi secara tepat guna. Pada tahun 2012, definisi teknologi pendidikan untuk peningkatan kinerja semakin diperkuat. Teknologi bukan hanya sebagai sumber belajar dalam proses belajar, tetapi sebagai media utama dalam proses pembelajaran yang disebut sebagai pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Walaupun teknologi baru banyak ditemukan, teknologi lama, seperti media cetak, media audio dan video) masih digunakan sebagai sumber belajar yang efektif. Teknologi lama tersebut dapat diintegrasikan dan diperkaya oleh teknologi yang baru.
Di balik semua perkembangan teknologi, manusia tetap mempunyai peranan utama baik sebagai penemu teknologi, pengguna, maupun pengontrol penggunaan teknologi.
BAB III
KESIMPULAN
Dari sejarah yang diuraikan diatas dapat dilihat beberapa hal penting terkait tehnologi pendidikan. Pertama, teknologi pendidikan bergerak dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan bidang teknologi itu sendiri. Kedua, teknologi baru tidak serta merta sepenuhnya menggantikan teknologi yang lebih lama/tua. Teknologi lama masih digunakan dengan cara beroperasi yang lebih khusus, seperti radio yang terintegrasi sebagai bagian dari lingkungan teknologi yang lebih canggih seperti video di Internet. Teknologi yang lama pun dapat digunakan dan berkolaborasi diperkaya dengan teknologi yang baru. Ketiga, teknologi ternyata juga berperan penting dalam kesuksesan kegiatan pendidikan. Pemanfaatan teknologi dinilai telah membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif, baik oleh anak didik dan tenaga pendidik.
Yang perlu diperhatikan adalah laju pengembangan teknologi dan perendaman kita dalam melaksanakan kegiatan berbasis teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap generasi memiliki era teknologi masing-masing dan laju pengembangan teknologi ini dapat membuat perubahan generasi baik dalam kebudayaan maupun paradigm. Hal yang mudah untuk menggambarkannya adalah seperti dampak Internet pada pendidikan menyebabkan pergeseran paradigma, setidaknya dalam hal teknologi pendidikan. Tenaga pendidik haruslah memahami dampak dari laju pengembangan teknologi ini sehingga dapat memanfaatkan teknologi dengan tepat, benar, dan aman bagi anak didik. Karena di balik semua perkembangan teknologi, manusia tetap mempunyai peranan utama baik sebagai penemu teknologi, pengguna, maupun pengontrol penggunaan teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Manguel, A. A History of Reading. London: Harper Collins. 1996
Selwood, D. What does the Rosetta Stone tell us about the Bible? Did Moses read hieroglyphs? The Telegraph, July 15, 2014
Robinson, J. Broadcasting Over the Air .London: BBC, 1982.
Kaplan, A. and Haenlein, M. Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media, Business Horizons, Vol. 53, 2010
http://www.tonybates.ca/2014/12/10/a-short-history-of-educational-technology/
M. Atwi Suparman, Teknologi Pendidikan Dalam Pendidikan Jarak Jauh – Solusi untuk Kualitas dan Aksesibilitas Pendidikan (Jakarta: Universitas Terbuka, 2014).
[1] Selwood, D. (2014) What does the Rosetta Stone tell us about the Bible? Did Moses read hieroglyphs? The Telegraph, July 15 - http://www.tonybates.ca/2014/12/10/a-short-history-of-educational-technology/#sthash.ds8raaDS.dpuf
[2] Phaedrus, 274c-275 di dalam Manguel, A. A History of Reading (London: Harper Collins. 1996)
[3] Ibid.,
[5] Kaplan, A. and Haenlein, M. Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media, (Business Horizons, Vol. 53, 2010), pp. 59-68
[6] Ibid., h. 64
[7] M. Atwi Suparman, Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Jarak Jauh – Solusi untuk Kualitas dan Aksesibilitas Pendidikan (Tangerang: Universitas Terbuka, 2014), h. 22-35.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar